Wednesday, August 20, 2014

Pilpres 2014

Pilpres 2014, menurut saya adalah pilpres paling seru yang pernah terjadi di Indonesia. Secara kebetulan hanya ada 2 orang capres yang bertarung, yaitu Prabowo dan Joko Widodo.

Luar biasa memperhatikan bagaimana pendukung dari kedua capres ini saling menunjukkan dukungan terhadap capres masing-masing. Bahkan sampai ada hubungan pertemanan dan persaudaraan yang retak karena berbeda pendapat dan sikap atas capres dukungannya.

Lihatlah di social media. Masing-masing men-share berita-berita terkait dengan capres dukungannya, tanpa perduli apakah berita ini valid atau tidak. Muncul istilah black campaign, negative campaign.

Setelah KPU mengumumkan hasil perhitungan suara pun, masing-masing pendukung masih terus membagikan berita-berita terkait dengan keabsahan hasil perhitungan suara.

Sebegitu hebatnya dukungan dari masyarakat terhadap kedua capres ini. Bahkan menurut saya berlebihan. Sampai saya berpikir, memangnya jika Capres A terpilih jadi presiden, anda itu akan diangkat sebagai apa? Anda itu akan diberikan posisi apa? Belajar dari pilpres tahun-tahun sebelumnya, Capres hanya mengumbar janji saja pada saat kampanye. Begitu mereka dipercaya rakyat, mereka tidak amanah. Kenapa rakyat di negara ini tidak belajar dari pengalaman mereka sebelumnya.

Indonesia ini negara yang sangat kaya. Jadi rebutan para petinggi di negeri untuk memperebutkan jabatan. Bahkan sampai asing pun campur tangan dalam kedaulatan negara ini. Saya tidak yakin kedua capres ini akan bisa melepaskan diri dari campur tangan pihak asing. Karena negara-negara asing pun tidak akan rela begitu saja, pengaruh mereka lepas di Indonesia. Dan keserakahan pejabat-pejabat di negara ini, menjadi lahan empuk bagi pihak asing untuk menanamkan pengaruh mereka di negara ini.

Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kepada pejabat-pejabat di negara ini, agar ingat akan bahwa jabatan itu dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.


Orang-orang yang beriman

Surat Al Mu'minuun (Orang-orang Mukmin), adalah surat ke-23 dalam Al Quran. Surat yang terdiri dari 118 ayat ini, dalam 9 ayat pertamanya, memberikan keterangan mengenai siapa-siapa manusia yang masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman, yaitu :

  • Orang-orang khusyu dalam sembahyangnya (shalat) - (ayat 2)
  • Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna - (ayat 3)
  • Orang-orang yang menunaikan zakat - (ayat 4)
  • Orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini dinilai tidak tercela - (ayat 5) Barang siapa yang mencari dibalik itu, maka itulah orang-orang yang melampaui batas - (ayat 6).
  • Orang-orang yang memelihara amanah (yang dipikulnya) dan janjinya - (ayat 7).
  • Orang-orang yang memelihara sembahyangnya (shalat) - (ayat 8)
Dan Allah berfirman, bahwa mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus dan kekal di dalamnya (ayat 11).

Al Ashr

Salah satu surat pendek di dalam Al Quran yang kebanyakan dihafal oleh umat muslim adalah Surat Al Ashr yang artinya adalah Masa / Waktu.

Surat yang terdiri dari 3 ayat yang artinya adalah sebagai berikut :
1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali :
   (1) orang yang beriman dan 
   (2) orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan 
   (3) nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran  dan 
   (4) nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Di dalam surat ini Allah berfirman, bahwa sesungguhnya, kebanyakan dari kita, umat manusia, adalah orang-orang yang merugi. Namun ada 4 golongan manusia yang tidak masuk ke dalam kategori tersebut. Apakah kita termasuk ke dalam salah satu golongan tersebut ? Wallahu'alam.

Monday, June 30, 2014

Lailatul Qadar

Ya Allah, puji syukurku karena Engkau telah memberikanku umur untuk bertemu dengan bulan Ramadhan tahun ini. Janganlah Engkau jadikan ini menjadi bulan Ramadhan terakhirku, karena aku akan selalu merindukan kedatangannya di tahun-tahun mendatang.

Ya Allah, pantaskanlah diriku untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Namun jika karena dosa-dosaku, tingkah lakuku yang menurut-Mu membuat aku belum pantas menerima Lailatul Qadar, berikanlah kepada istriku.
Jikalau kami berdua menurutmu belum pantas, maka berikanlah kepada anak-anak kami.

Ya Allah, Jikalau kami semua belum pantas menurut-Mu, berikanlah kepada Ibu dan Bapakku.

Amin.

Saturday, June 28, 2014

Ustadz Sugih

Ustadz ini bukanlah ustadz kondang yang sering keluar masuk infotainment. Juga bukan ustadz hasil binaan ustadz kondang. 

Tapi pertama kali dia berdakwah di kantor saya, dia bisa bisa menarik antusiasme yang hadir berkat cerita mengenai latar belakangnya yang dulu pernah menjadi pegawai swasta, sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berguru untuk belajar berdakwah.

Ada pro dan kontra dengan gaya si Ustadz ini berdakwah. Namun dia menjanjikan apabila kita berniat serius untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik, dia menggaransi dalam 4 bulan pasti sudah ada perubahan dalam hidup orang tersebut.

Saya tidak akan mengulas semua materi yang disampaikan oleh si Ustadz disini, namun ada beberapa kata-kata yang disampaikan oleh si Ustadz yang cukup memotivasi diri saya.

Seperti ketika dia membahas soal tawakal.

Tawakal bukanlah sekedar kita berusaha, berdoa dan selanjutnya pasrah kepada ketetapan Allah, SWT. Namun tawakal adalah bagaimana kita dapat secara konsisten mengerjakan ibadah kepada Allah, SWT. Apabila suatu ibadah sudah kita kerjakan secara konsisten, lalu kita tinggalkan, maka kita akan berdosa. Walaupun itu adalah ibadah sunah. Sebagai contoh, orang yang terbiasa melaksanakan shalat dhuha 2 – 4 rakaat setiap hari. Kemudian, karena sedang kedatangan tamu, shalat tersebut tidak dia kerjakan. Atau laki-laki yang secara rutin pergi shalat subuh berjamaah di mesjid, kemudian karena hujan maka tidak pergi ke mesjid. Maka, itu menjadi dosa. Itulah yang disebut tawakal. Bagaimana kita secara konsisten dapat melakukan suatu ibadah atau kebaikan tanpa berubah.

Satu contoh yang dia berikan, yang cukup memotivasi saya sampai saat ini dalam beribadah, kita sebagai karyawan, biarpun hujan atau banjir, bagaimana caranya berusaha untuk bisa masuk ke kantor. 
Namun hanya karena gerimis kita tidak pergi shalat berjamaah di mesjid. Padahal itu adalah untuk beribadah kepada yang memberikan kita hidup. Kita terkadang takut, sampai meninggalkan ibadah karena kesibukan pekerjaan kita. Padahal Allah sudah menjanjikan, dalam hadis berikut :

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

“Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia dan seluruh isinya” (HR. Muslim)

Janji Allah sudah jelas dan pasti, namun kita masih sering lebih takut kepada urusan dunia kita. Padahal Allah sudah menjanjikan. Allah berfirman :

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS : Ath-Thalaaq Ayat : 3 )

Sunday, June 22, 2014

Persiapan Memasuki Bulan Ramadhan

Sebentar lagi, bulan yang kita nanti-nantikan akan datang lagi, Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh keberkahan, bulan ampunan. Namun terkadang kita tidak pernah mempersiapkan diri dalam menghadapi bulan Ramadhan tersebut.
Kira-kira persiapan apa sih yang harus kita lakukan dalam menghadapi bulan Ramadhan ini? Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan :
  1. Mengenai kesehatan. Pengalaman pribadi saya pada bulan Ramadhan 2 tahun lalu dan sebelumnya, setiap bulan Ramadhan kesehatan saya terganggu. Umumnya sakit yang menyerang adalah batuk dan pilek. Hal ini wajar karena pada saat bulan Ramadhan, asupan makanan yang masuk ke tubuh berkurang sehingga membuat daya tahan tubuh menurun. Ini sangat mengganggu ibadah. Nah tahun lalu saya mulai rutin berolah raga di gym. Pada saat menjalani puasa di bulan Ramadhan tahun lalu, Alhamdulillah, saya tidak mengalami gangguan kesehatan sama sekali. Artinya dengan berolah raga secara teratur dapat membuat daya tahan tubuh terhadap penyakit menjadi lebih kuat.
  2. Membiasakan tubuh dengan rutinitas yang akan  kita lakukan di bulan Ramadhan. Bagi orang kebanyakan seringkali yang tadinya ibadahnya biasa-biasa, pada saat Ramadhan, langsung tidak pernah tinggal shalat 5 waktu, bahkan shalat tarawih dan shalat tahajud. Namun karena ini bukan kebiasaan yang dilakukan sejak sebelum Ramadhan, umumnya pada pertengahan Ramadhan sampai dengan akhir Ramadhan semangat teman-teman menurun dan akhirnya di minggu terakhir semua menjadi kembali seperti  biasa. Bayangkan justru di minggu terakhir Ramadhan, harusnya orang berlomba-lomba semakin memperbanyak ibadahnya.
  3. Gangguan yang sering terjadi lagi adalah buka puasa bersama. Tidak ada yang salah dengan kegiatan ini. Namun seringkali, kebanyakan kita disibukkan dengan berbuka puasa dengan makan sebanyak-banyaknya sehingga kita mengakhirkan shalat maghrib. Dan akhirnya berlanjut menunda shalat isya dan tidak melaksanakan tarawih  berjamaan di mesjid. Memang shalat tarawih ini adalah shalat sunnah. Namun alangkan sayangnya jika terlewat karena shalat ini hanya datang sebulan dalam setahun.
  4. Kita harus tentukan target kita dalam bulan Ramadhan tahun ini. Apa yang ingin kita capai seperti : khatam Al Quran, menghapal surat-surat tertentu, dan sebagainya.
  5. Belajar dari ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Mana yang sudah baik kita teruskan, mana yang masih kurang kita perbaiki dan kita tingkatkan.
  6. Dan yang terakhir, umumnya mendekati minggu terakhir Ramadhan, kita disibukkan dengan prosesi mudik. Sehingga ibadah kita menjadi tertinggal.
Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

BISA BACA NGGA YAA...!!

Kejadian kedua yang saya alami di Food Court Thamrin City, di meja sebelah kanan meja kami, datang seorang Bapak dan seorang anak perempuannya yang berumur sekitar 5 tahun.

Setelah selesai makan, mungkin karena kebiasaan, si Bapak ini langsung saja mengeluarkan rokok dan menyalakan rokoknya. Padahal area food court tersebut adalah ruangan tertutup dengan AC. Tidak hanya itu, tulisan Daerah ini Kawasan Dilarang Merokok terpampang jelas di dinding.

Asap rokok itu terbang ke meja tempat saya dan anak-anak duduk. Bukan hanya itu, di meja sebelah depan saya pun ada seorang bayi yang ikut "menikmati asap rokok dari si bapak tersebut.

Anak saya protes berteriak tidak tahan dengan bau asap rokok tersebut. Saya menatap ke arah si Bapak tersebut sambil berkata kepada anak saya, "Bahwa mungkin Bapak ini tidak bisa membaca dan tidak pernah belajar tata krama, sehingga tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya." Si bapak tetap saja tidak mematikan rokok dan tidak juga memandang ke arah saya yang terus menatap ke arah dia. 

Saya hanya membatin dan berdoa kepada Allah agar si bapak ini diberikan kesadaran akan bahaya merokok bagi diri sendiri dan orang lain. Amin.

Namun ternyata, si bapak ini cuek saja dan terus merokok. dia tidak sadar bahwa dia telah menzhalimi orang lain. Saya berkesimpulan bahwa bapak ini selain tidak mengerti tata krama juga seorang yang pengecut.

Teman-teman, saya juga terkadang merokok untuk keperluan pergaulan. Namun, saya tidak akan merokok di depan anak-anak apalagi anak saya sendiri. Karena merokok di depan anak-anak adalah iklan merokok yang paling efektif untuk mengubah generasi muda kita menjadi generasi perokok. 

Alangkah senang para pemilik perusahaan rokok, setelah kita membayar untuk membeli rokok mereka, kita pun ikut mengiklankan secara gratis untuk mengajak generasi muda membeli dan menjadi perokok.

Inilah buah dari amburadulnya dunia pendidikan  nasional. Sehingga kebanyakan orang Indonesia tumbuh menjadi karakter yang egois, tidak perduli dengan lingkungan sekitar, bersenang-senang diatas penderitaan orang lain.

Mari kita perbaiki ini, mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita.